Merencanakan dan Mengelola Uang dengan Bijak
di Tengah Tantangan Transaksi Digital
Oleh: Marzuki Wardi

Sumber gambar: dokumen pribadi
Penerbit : PT
Bentara Aksara Cahaya (Baca)
Terbit : 2020
Tebal : 285 halaman
ISBN : 978-623-8371-04-4
Saya tidak berkecimpung dalam dunia ekonomi, bisnis, maupun investasi. Namun, sebagai pembaca generalis, saya suka membaca buku apa saja, termasuk ekonomi dan psikologi. Dulu, ketika masih sering membaca koran cetak Kompas, salah satu kolom yang suka saya baca selain Rubrik Sastra ialah Kolom Akhir Pekan yang menyajikan tulisan seputar psikologi dan ekonomi (keuangan). Prita Hapsari Ghozie (konsultan keuangan), Agus Sugiharto (konsultan keuangan), Kristi Poerwandari (psikolog), dan Agustine Dwiputri (psikolog) adalah beberapa penulis yang masih saya ingat namanya. Tulisan mereka asyik, renyah, dan yang terpenting ialah dapat diterapkan dengan mudah.
Ketika membaca buku The Psychology of Money ini saya juga merasakan sensasi yang sama. Dalam buku ini, kita tidak hanya bisa menikmati dua topik tersebut dalam satu kemasan sebagaimana layaknya di koran, tetapi dua topik tersebut dikombinasi dan diintegrasikan menjadi satu kajian yang praktis dan aplikatif. Ada 20 tulisan (esai) dalam buku setebal 285 ini. Semuanya mengulas hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi dalam arti luas; investasi, bisnis, perkembangan ekonomi global dan negara (khususnya Amerika), dan managemen keuangan. Namun, yang menjadi pembeda dengan topik ekonomi lainnya ialah Morgan mengulasnya dari perspektif psikologi yang kerap luput dari perhatian kita. Padahal, psikologi berkaitan dengan perilaku kita yang memiliki peran besar terhadap keputusan kita dalam membelanjakan uang kita.
Sejak bagian awal buku ini, Morgan sudah menyuguhkan kita sebuah premis bahwa keberhasilan dalam mengelola uang tidak berkaitan dengan kecerdasan seseorang, melainkan berkaitan dengan perilaku kita terhadap uang. Dengan kata lain, Morgan seolah ingin mengatakan bahwa kita tidak perlu menguasai teori ekonomi dari A sampai Z untuk menjadi kaya. Kita hanya perlu memperbaiki perilaku terhadap uang.
Ekonom yang merupakan partner di The Collaborative Fund ini memberikan contoh melalui sepenggal kisah seorang eksekutif teknologi genius yang ditemukannya saat sedang bekerja sebagai valet di sebuah hotel di Los Angeles. Pemuda tersebut telah berhasil mendirikan perusahaan pada usianya yang belia. Namun, kesuksesan tersebut tidak diimbanginya dengan perilaku baik dalam mengelola uang. Ia suka menghamburkan uangnya. Ia bahkan pernah memamerkan kekayaannya dengan membeli segepok koin emas lalu melemparkannya ke laut layaknya mainan tak berguna sama sekali. Suatu hari ia berbuat ulah dengan sengaja merusak fasilitas hotel lalu menggantinya dengan harga yang lebih tinggi. Pada akhirnya, perusahannya bangkrut dan ia jatuh miskin.
Sebagai pebandingan, dikisahkan seorang bernama Ronald James Read merupakan seorang filantropis yang bekerja sebagai petugas kebersihan, penjaga pom bensin, dan investor. Ia adalah anak pertama yang lulus SMA di keluarganya. Hidupnya sangat sederhana. Hobinya hanya memotong kayu. Namun, begitu ia meninggal, fakta mengejutkan adalah ia termasuk satu di antara orang Amerika yang punya harta di atas $8 juta. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah di surat wasiatnya ia mewariskan $2 juta kepada anak-anak tirinya dan $6 juta kepada rumah sakit dan perpustakaan.
Dari kisah di atas tentu kita bisa memahami betapa kekayaan bukan sekadar persoalan seberapa banyak uang yang kita miliki, melainkan bagaimana kita memperlakukan uang kita agar memberikan manfaat bagi kita bahkan orang lain. Melalui cerita-cerita sejenis Morgan memberikan kita insight, inspirasi, dan cara pandang yang gamblang dalam mengelola uang dari sisi psikologis. Tentu bukan sekadar cerita, Morgan juga mengajak kita mengamati kondisi perekonomian melalui data hasil analisisnya, dan berdasarkan itu ia memberikan kita saran dan nasihat yang relevan dalam mengelola uang.
Keterampilan mengelola uang ini tentu sangat penting untuk kita miliki bahkan urgen di era digitalisasi seperti saat ini, di mana segala kemudahan transaksi disajikan hanya dalam satu perangkat yang bernama gawai. Apa pun bisa dibeli tanpa perlu keluar rumah. Kita hanya butuh scroll gawai saja sambil duduk santai, bahkan kini beberapa marketplace menyediakan fitur belanja dengan metode bayar belakangan (paylater). Di Tengah limpahan kemudahan itu terkadang kita sulit menahan godaan untuk bertransaksi tanpa kendali untuk hal-hal yang sebetulnya tidak begitu dibutuhkan. Banyak orang yang sekali terperangkap, ia sulit keluar dari jeratan transaksi-transaksi digital tersebut. Karena itulah nasihat-nasihat keuangan yang disajikan dalam buku ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan keterampilan merencanakan dan mengelola uang dengan bijak.
Dari segi konten materi, 20 esai tersebut bisa dibaca secara terpisah (tidak mesti berurutan dari bab 1 sampai 20). Dengan kata lain, kita bisa membacanya layaknya membaca kumpulan esai. Namun, tentu saja pemahaman kita akan lebih matang dan utuh bila kita membacanya secara berurutan, sebab ada beberapa materi yang memang terhubung satu sama lain.
Lombok tengah, 12 Mei 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar