Rabu, 17 Juni 2026

Resensi Buku

 

Mengelola Emosi Negatif Agar Kita Tidak Mudah Rapuh

Oleh Marzuki Wardi

Sumber: dokumen pribadi

Penulis             : Afthonul Afif

Penerbit           : DIVA Press

Terbit               : April 2026

Tebal               : 204 halaman

Dalam buku-buku motivasi, biasanya kita diminta untuk menghindari bahkan membuang jauh-jauh perasaan negatif yang muncul dalam benak kita. Hal itu bertujuan agar kita tetap optimis dan tenang dalam menjalani hidup. Demikian juga dalam bekerja, kita diminta untuk menjaga semangat dan harus selalu berpikir positif meskipun kita dalam keadaan tertekan dan perasaan kita sedang hancur. Hal itu dimaksudkan agar kinerja kita tetap optimal dan hasil yang kita peroleh pun jadi maksimal. Tentu saja hal ini baik. Namun, di sisi lain, tahukah Anda bahwa menekan perasaan negatif seperti rasa kecewa, marah, sedih, dan perasaan negatif lainnya justru tidak bagus bahkan berbahaya bagi perkembangan psikologis kita? Kenapa hal itu berbahaya? Jawabannya akan kita dapatkan dalam buku berjudul Toxic Positivity ini.

Secara garis besar buku ini mengulas apa itu Toxic Positivity (positivitas beracun), bagaimana ia memengaruhi sikap dan kepribadian kita dalam kehidupan sehari-hari, kenapa ia berbahaya bagi kita, bagaimana kita mendeteksinya (ciri-cirinya), mengendalikan, hingga mengelolanya menjadi kekuatan positif yang dapat kita jadikan bekal dalam mengarungi hidup sehari-hari.

Toxic positivity adalah dorongan berlebihan untuk selalu berpikir positif ketika perasaan kita sedang tertekan atau hancur: sedih, kecewa, marah, jengkel, merasa kehilangan, dan beberapa emosi negatif lainnya. Dorongan itu biasanya datang dari orang lain yang bermaksud membujuk kita untuk mengilangkan emosi tersebut, sehingga kita merasa tidak pantas menunjukkan perasaan tersebut. Pada akhirnya kita memutuskan untuk menyembunyikannya.

Padahal, menurut penulis buku yang juga konselor di Asosiasi Konselor Pastoral Indonesia (AKPI) ini, menekan emosi negatif tersebut justru berbahaya. Sebab, ia tidak benar-benar hilang dalam diri kita. Ia bisa muncul sewaktu-waktu dalam bentuk ledakan emosi yang berdampak pada kesehatan psikologis kita. Orang yang terbiasa menekan marah atau sedih sering mengalami stress berkepanjangan, depresi, cemas, dan merasa hampa. Sebab energi emosional yang tidak tersalurkan berubah menjadi beban batin (hal.48)

Dalam buku ini, penulis mengajak kita memandang emosi negatif bukan sebagai suatu yang buruk, melainkan sebagai bagian alami dari kehidupan manusia. Ia adalah warisan biologis yang justru dapat membantu manusia bertahan hidup. Karena itulah, menurutnya, kita mesti menerima dan mengakui emosi tersebut secara jujur, kemudian menjadikannya sebagai bahan refleksi untuk perbaikan diri. Selain itu, emosi negatif juga memiliki fungsi adaptif yang memperkuat peluang bertahan. Ambil contoh dari rasa takut, marah, dan sedih. Marah memberi dorongan untuk melawan ancaman, rasa takut menumbuhkan kewaspadaan, dan kesedihan memperkuat ikatan sosial melalui empati.

Lantas, bagaimana kita menghadapi emosi negatif tersebut? Ada beberapa langkah praktis yang disarankan oleh penulis untuk menatanya alih-alih menekannya. Pertama, mulai dengan latihan reflektif sederhana. Kedua, gunakan refleksivitas untuk menata ulang pengalaman sehari-hari. Ketiga, dari refleksivitas lahir sikap kritis. Keempat, latih kebiasaan menunda reaksi sebelum mengambil keputusan. Kelima, gunakan sikap kritis untuk meninjau ulang kebiasaan dan norma yang selama ini diterima begitu saja. Terakhir, jadikan refleksivitas dan kritisisme sebagai kebiasaan harian yang berkelanjutan. Semua langkah ini dijelaskan secara detail pada halaman 140 sampai dengan 145.

Materi buku ini cukup faktual dan relevan dengan kondisi dunia saat ini yang mana citra kebahagian seakan menjadi komoditas di media sosial. Setiap hari lanskap virtual kita (di Facebook, Instagram, Tiktok, dan YouTube) dihiasi dengan konten liburan, penampilan fisik yang eksotis, kepemilikan akan kendaraan mewah, rumah elit, pasangan ideal, senyum bahagia, dan capaian materi lainnya yang tampak begitu mudah diraih disertai kata-kata bijak dan motivasi. Semua terlihat menarik dan seakan menjadi realitas yang lekat dengan keseharian kita. Padahal, apa yang ditampilkan di dunia virtual itu sudah dipoles sedemikian rupa hingga terkesan sempurna.

Yang jadi persoalan ialah ketika citra sempurna yang telah terpola secara algoritmatis itu dicerna secara instan, ia bisa saja memengaruhi cara kita memandang dan menilai diri. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kita mengambil standar hidup dari sana. Dan ketika kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan tren tersebut, kita akan merasa hidup demikian terpuruk.

Dari situlah kebahagiaan semu bermula. Karena itu, penulis buku ini mengajak kita untuk mengambil jeda sejenak terhadap kebisingan dunia virtual lalu menengok ke dalam diri kita bahwa kita tidak hidup di ruang semu yang luput dari masalah yang dapat menimbulkan emosi negatif. Ia kemudian mengajak kita untuk melihat emosi negatif secara seimbang sebagai bagian alami dari realitas hidup, bukan untuk dihindari tetapi dialami dan dipahami sehingga jiwa kita menjadi matang.  

Memang, secara konten ada bagian yang tampak absen dalam salah satu sub bab buku ini. Pada sub bab Apa yang Bisa Kita Lakukan? (hal. 81), misalnya, penulis tidak menunjukkan langkah-langkah teknis sebagai upaya dalam menangkal kegagalan negara dalam mewujudkan standar kolektif terhadap standar (pelayanan/hidup) kehidupan masyarakat. Padahal, dari segi judul sub bab bersifat teknis (how to) yang merupakan lanjutan dari bagian sebelumnya yang mengurai kegagalan negara dalam memberikan standar hidup yang layak.

Saya pikir ada baiknya penulis mengurai langkah realistis yang dapat diterapkan sehingga toxic postivity terhadap standar yang tidak tersedia dari pemerintah dapat diatasi. Di samping itu, dalam memberikan contoh, penulis juga lebih banyak memakai pengandaian. Misalnya dengan kalimat, “Bayangkan…” bukan dengan kalimat, “Apa yang dialami oleh si A” yang diambil berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh subyek yang menjadi contoh. Dengan begitu, pesan yang ingin disampaikan penulis terasa lebih lekat dan mengena dalam benak pembaca.

Namun, terlepas dari semua itu, buku ini sangat relevan bagi kita, terlebih bagi generasi muda (Gen Z) dengan kondisi psikologis yang masih labil, sebagai kompas untuk mengarungi hidup di era banjirnya komoditas kebahagiaan virtual,  agar tidak terjebak kebahagiaan semu. Sebab, toxic positivity tampak manis dari sisi kemasan tapi racunnya tampak sangat samar.

 Lombok Tengah, 18 Juni 2026

Selasa, 12 Mei 2026

Resensi Buku

 

Merencanakan dan Mengelola Uang dengan Bijak

di Tengah Tantangan Transaksi Digital

Oleh: Marzuki Wardi

Sumber gambar: dokumen pribadi


 Penulis        : Morgan Housel

Penerbit        : PT Bentara Aksara Cahaya (Baca)

Terbit            : 2020

Tebal            : 285 halaman

ISBN            : 978-623-8371-04-4

    Saya tidak berkecimpung dalam dunia ekonomi, bisnis, maupun investasi. Namun, sebagai pembaca generalis, saya suka membaca buku apa saja, termasuk ekonomi dan psikologi. Dulu, ketika masih sering membaca koran cetak Kompas, salah satu kolom yang suka saya baca selain Rubrik Sastra ialah Kolom Akhir Pekan yang menyajikan tulisan seputar psikologi dan ekonomi (keuangan). Prita Hapsari Ghozie (konsultan keuangan), Agus Sugiharto (konsultan keuangan), Kristi Poerwandari (psikolog), dan Agustine Dwiputri (psikolog) adalah beberapa penulis yang masih saya ingat namanya. Tulisan mereka asyik, renyah, dan yang terpenting ialah dapat diterapkan dengan mudah.

    Ketika membaca buku The Psychology of Money ini saya juga merasakan sensasi yang sama. Dalam buku ini, kita tidak hanya bisa menikmati dua topik tersebut dalam satu kemasan sebagaimana layaknya di koran, tetapi dua topik tersebut dikombinasi dan diintegrasikan menjadi satu kajian yang praktis dan aplikatif.  Ada 20 tulisan (esai) dalam buku setebal 285 ini. Semuanya mengulas hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi dalam arti luas; investasi, bisnis, perkembangan ekonomi global dan negara (khususnya Amerika), dan managemen keuangan. Namun, yang menjadi pembeda dengan topik ekonomi lainnya ialah Morgan mengulasnya dari perspektif psikologi yang kerap luput dari perhatian kita. Padahal, psikologi berkaitan dengan perilaku kita yang memiliki peran besar terhadap keputusan kita dalam membelanjakan uang kita.

    Sejak bagian awal buku ini, Morgan sudah menyuguhkan kita sebuah premis bahwa keberhasilan dalam mengelola uang tidak berkaitan dengan kecerdasan seseorang, melainkan berkaitan dengan perilaku kita terhadap uang. Dengan kata lain, Morgan seolah ingin mengatakan bahwa kita tidak perlu menguasai teori ekonomi dari A sampai Z untuk menjadi kaya. Kita hanya perlu memperbaiki perilaku terhadap uang.

    Ekonom yang merupakan partner di The Collaborative Fund ini memberikan contoh melalui sepenggal kisah seorang eksekutif teknologi genius yang ditemukannya saat sedang bekerja sebagai valet di sebuah hotel di Los Angeles. Pemuda tersebut telah berhasil mendirikan perusahaan pada usianya yang belia. Namun, kesuksesan tersebut tidak diimbanginya dengan perilaku baik dalam mengelola uang. Ia suka menghamburkan uangnya. Ia bahkan pernah memamerkan kekayaannya dengan membeli segepok koin emas lalu melemparkannya ke laut layaknya mainan tak berguna sama sekali. Suatu hari ia berbuat ulah dengan sengaja merusak fasilitas hotel lalu menggantinya dengan harga yang lebih tinggi. Pada akhirnya, perusahannya bangkrut dan ia jatuh miskin.

    Sebagai pebandingan, dikisahkan seorang bernama Ronald James Read merupakan seorang filantropis yang bekerja sebagai petugas kebersihan, penjaga pom bensin, dan investor. Ia adalah anak pertama yang lulus SMA di keluarganya. Hidupnya sangat sederhana. Hobinya hanya memotong kayu. Namun, begitu ia meninggal, fakta mengejutkan adalah ia termasuk satu di antara orang Amerika yang punya harta di atas $8 juta. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah di surat wasiatnya ia mewariskan $2 juta kepada anak-anak tirinya dan $6 juta kepada rumah sakit dan perpustakaan.

    Dari kisah di atas tentu kita bisa memahami betapa kekayaan bukan sekadar persoalan seberapa banyak uang yang kita miliki, melainkan bagaimana kita memperlakukan uang kita agar memberikan manfaat bagi kita bahkan orang lain. Melalui cerita-cerita sejenis Morgan memberikan kita insight, inspirasi, dan cara pandang yang gamblang dalam mengelola uang dari sisi psikologis. Tentu bukan sekadar cerita, Morgan juga mengajak kita mengamati kondisi perekonomian melalui data hasil analisisnya, dan berdasarkan itu ia memberikan kita saran dan nasihat yang relevan dalam mengelola uang.

    Keterampilan mengelola uang ini tentu sangat penting untuk kita miliki bahkan urgen di era digitalisasi seperti saat ini, di mana segala kemudahan transaksi disajikan hanya dalam satu perangkat yang bernama gawai. Apa pun bisa dibeli tanpa perlu keluar rumah. Kita hanya butuh scroll gawai saja sambil duduk santai, bahkan kini beberapa marketplace menyediakan fitur belanja dengan metode bayar belakangan (paylater). Di Tengah limpahan kemudahan itu terkadang kita sulit menahan godaan untuk bertransaksi tanpa kendali untuk hal-hal yang sebetulnya tidak begitu dibutuhkan. Banyak orang yang sekali terperangkap, ia sulit keluar dari jeratan transaksi-transaksi digital tersebut.  Karena itulah nasihat-nasihat keuangan yang disajikan dalam buku ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan keterampilan merencanakan dan mengelola uang dengan bijak.

    Dari segi konten materi, 20 esai tersebut bisa dibaca secara terpisah (tidak mesti berurutan dari bab 1 sampai 20). Dengan kata lain, kita bisa membacanya layaknya membaca kumpulan esai. Namun, tentu saja pemahaman kita akan lebih matang dan utuh bila kita membacanya secara berurutan, sebab ada beberapa materi yang memang terhubung satu sama lain.

Lombok tengah, 12 Mei 2026

Resensi Buku

  Mengelola Emosi Negatif Agar Kita Tidak Mudah Rapuh Oleh Marzuki Wardi Sumber: dokumen pribadi Penulis             : Afthonul Afif Pe...