Mengelola Emosi Negatif
Agar Kita Tidak Mudah Rapuh
Oleh
Marzuki Wardi
![]() |
| Sumber: dokumen pribadi |
Penulis : Afthonul Afif
Penerbit : DIVA Press
Terbit : April 2026
Tebal : 204 halaman
Dalam
buku-buku motivasi, biasanya kita diminta untuk menghindari bahkan membuang
jauh-jauh perasaan negatif yang muncul dalam benak kita. Hal itu bertujuan agar
kita tetap optimis dan tenang dalam menjalani hidup. Demikian juga dalam
bekerja, kita diminta untuk menjaga semangat dan harus selalu berpikir positif
meskipun kita dalam keadaan tertekan dan perasaan kita sedang hancur. Hal itu
dimaksudkan agar kinerja kita tetap optimal dan hasil yang kita peroleh pun jadi
maksimal. Tentu saja hal ini baik. Namun, di sisi lain, tahukah Anda bahwa menekan
perasaan negatif seperti rasa kecewa, marah, sedih, dan perasaan negatif
lainnya justru tidak bagus bahkan berbahaya bagi perkembangan psikologis kita? Kenapa
hal itu berbahaya? Jawabannya akan kita dapatkan dalam buku berjudul Toxic Positivity ini.
Secara
garis besar buku ini mengulas apa itu Toxic Positivity (positivitas
beracun), bagaimana ia memengaruhi sikap dan kepribadian kita dalam kehidupan
sehari-hari, kenapa ia berbahaya bagi kita, bagaimana kita mendeteksinya
(ciri-cirinya), mengendalikan, hingga mengelolanya menjadi kekuatan positif
yang dapat kita jadikan bekal dalam mengarungi hidup sehari-hari.
Toxic positivity adalah dorongan berlebihan untuk selalu
berpikir positif ketika perasaan kita sedang tertekan atau hancur: sedih,
kecewa, marah, jengkel, merasa kehilangan, dan beberapa emosi negatif lainnya.
Dorongan itu biasanya datang dari orang lain yang bermaksud membujuk kita untuk
mengilangkan emosi tersebut, sehingga kita merasa tidak pantas menunjukkan
perasaan tersebut. Pada akhirnya kita memutuskan untuk menyembunyikannya.
Padahal,
menurut penulis buku yang juga konselor di Asosiasi Konselor Pastoral Indonesia
(AKPI) ini, menekan emosi negatif tersebut justru berbahaya. Sebab, ia tidak
benar-benar hilang dalam diri kita. Ia bisa muncul sewaktu-waktu dalam bentuk
ledakan emosi yang berdampak pada kesehatan psikologis kita. Orang yang
terbiasa menekan marah atau sedih sering mengalami stress berkepanjangan, depresi,
cemas, dan merasa hampa. Sebab energi emosional yang tidak tersalurkan berubah
menjadi beban batin (hal.48)
Dalam
buku ini, penulis mengajak kita memandang emosi negatif bukan sebagai suatu
yang buruk, melainkan sebagai bagian alami dari kehidupan manusia. Ia adalah
warisan biologis yang justru dapat membantu manusia bertahan hidup. Karena
itulah, menurutnya, kita mesti menerima dan mengakui emosi tersebut secara
jujur, kemudian menjadikannya sebagai bahan refleksi untuk perbaikan diri.
Selain itu, emosi negatif juga memiliki fungsi adaptif yang memperkuat peluang
bertahan. Ambil contoh dari rasa takut, marah, dan sedih. Marah memberi
dorongan untuk melawan ancaman, rasa takut menumbuhkan kewaspadaan, dan
kesedihan memperkuat ikatan sosial melalui empati.
Lantas,
bagaimana kita menghadapi emosi negatif tersebut? Ada beberapa langkah praktis
yang disarankan oleh penulis untuk menatanya alih-alih menekannya. Pertama, mulai dengan latihan reflektif
sederhana. Kedua, gunakan
refleksivitas untuk menata ulang pengalaman sehari-hari. Ketiga, dari refleksivitas lahir sikap kritis. Keempat, latih kebiasaan menunda reaksi sebelum mengambil
keputusan. Kelima, gunakan sikap
kritis untuk meninjau ulang kebiasaan dan norma yang selama ini diterima begitu
saja. Terakhir, jadikan refleksivitas
dan kritisisme sebagai kebiasaan harian yang berkelanjutan. Semua langkah ini
dijelaskan secara detail pada halaman 140 sampai dengan 145.
Materi
buku ini cukup faktual dan relevan dengan kondisi dunia saat ini yang mana
citra kebahagian seakan menjadi komoditas di media sosial. Setiap hari lanskap
virtual kita (di Facebook, Instagram,
Tiktok, dan YouTube) dihiasi
dengan konten liburan, penampilan fisik yang eksotis, kepemilikan akan
kendaraan mewah, rumah elit, pasangan ideal, senyum bahagia, dan capaian materi
lainnya yang tampak begitu mudah diraih disertai kata-kata bijak dan motivasi.
Semua terlihat menarik dan seakan menjadi realitas yang lekat dengan keseharian
kita. Padahal, apa yang ditampilkan di dunia virtual itu sudah dipoles
sedemikian rupa hingga terkesan sempurna.
Yang
jadi persoalan ialah ketika citra sempurna yang telah terpola secara
algoritmatis itu dicerna secara instan, ia bisa saja memengaruhi cara kita
memandang dan menilai diri. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kita mengambil
standar hidup dari sana. Dan ketika kita tidak mampu menyesuaikan diri dengan
tren tersebut, kita akan merasa hidup demikian terpuruk.
Dari
situlah kebahagiaan semu bermula. Karena itu, penulis buku ini mengajak kita
untuk mengambil jeda sejenak terhadap kebisingan dunia virtual lalu menengok ke
dalam diri kita bahwa kita tidak hidup di ruang semu yang luput dari masalah
yang dapat menimbulkan emosi negatif. Ia kemudian mengajak kita untuk melihat
emosi negatif secara seimbang sebagai bagian alami dari realitas hidup, bukan
untuk dihindari tetapi dialami dan dipahami sehingga jiwa kita menjadi
matang.
Memang,
secara konten ada bagian yang tampak absen dalam salah satu sub bab buku ini.
Pada sub bab Apa yang Bisa Kita Lakukan?
(hal. 81), misalnya, penulis tidak menunjukkan langkah-langkah teknis sebagai
upaya dalam menangkal kegagalan negara dalam mewujudkan standar kolektif
terhadap standar (pelayanan/hidup) kehidupan masyarakat. Padahal, dari segi
judul sub bab bersifat teknis (how to)
yang merupakan lanjutan dari bagian sebelumnya yang mengurai kegagalan negara
dalam memberikan standar hidup yang layak.
Saya
pikir ada baiknya penulis mengurai langkah realistis yang dapat diterapkan
sehingga toxic postivity terhadap
standar yang tidak tersedia dari pemerintah dapat diatasi. Di samping itu,
dalam memberikan contoh, penulis juga lebih banyak memakai pengandaian.
Misalnya dengan kalimat, “Bayangkan…” bukan dengan kalimat, “Apa yang dialami
oleh si A” yang diambil berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh subyek yang
menjadi contoh. Dengan begitu, pesan yang ingin disampaikan penulis terasa lebih
lekat dan mengena dalam benak pembaca.
Namun,
terlepas dari semua itu, buku ini sangat relevan bagi kita, terlebih bagi
generasi muda (Gen Z) dengan kondisi psikologis yang masih labil, sebagai
kompas untuk mengarungi hidup di era banjirnya komoditas kebahagiaan
virtual, agar tidak terjebak kebahagiaan
semu. Sebab, toxic positivity tampak
manis dari sisi kemasan tapi racunnya tampak sangat samar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar